Misteri Anak Rambut Gimbal Dieng: Legenda Kyai Kolodete & Ruwatan 2026
19 Januari 2026 76x Dieng
Anak Rambut Gimbal – Dataran Tinggi Dieng, sebuah kaldera raksasa yang terletak di jantung Jawa Tengah, tidak hanya menawarkan panorama vulkanik yang memukau atau fenomena embun upas yang membekukan. Di balik kabut tebal yang menyelimuti Candi Arjuna dan Telaga Warna, tersimpan sebuah fenomena antropologis yang unik, mistis, dan telah berlangsung selama berabad-abad. Fenomena tersebut dikenal dengan keberadaan “Anak Bajang” atau anak-anak berambut gimbal alami.
Berbeda dengan gaya rambut dreadlock yang sengaja dibuat di salon-salon kota besar demi estetika reggae, rambut gimbal pada anak-anak Dieng tumbuh secara alami, misterius, dan penuh dengan muatan spiritual. Bagi masyarakat setempat, mereka bukanlah sekadar anak biasa; mereka adalah anak-anak pilihan, sebuah “titipan” dari leluhur pendiri Dieng.
Artikel ini akan mengupas tuntas lapisan sejarah, mitologi, dan realitas budaya di balik fenomena ini. Kita akan menyelami siapa sebenarnya sosok Kyai Kolodete, mengapa rambut ini tidak boleh dipotong sembarangan, hingga kemegahan ritual pemotongan rambut dalam perhelatan akbar Dieng Culture Festival.
Anomali di Negeri Kahyangan: Bukan Genetik, Melainkan Gaib?

Secara biologis, masyarakat Jawa umumnya memiliki rambut lurus atau sedikit bergelombang dan berwarna hitam legam. Namun, di wilayah Dataran Tinggi Dieng—yang mencakup Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara—muncul anomali yang membingungkan dunia medis namun sangat dihormati dalam kacamata budaya. Anak-anak yang terlahir dengan rambut normal, tiba-tiba mengalami perubahan drastis pada usia tertentu, biasanya antara 40 hari hingga 6 tahun.
Perubahan ini tidak terjadi secara instan tanpa pertanda. Hampir selalu diawali dengan demam tinggi yang ekstrem. Orang tua setempat sering kali panik, membawa anak mereka ke dokter atau puskesmas. Anehnya, obat penurun panas medis sering kali tidak mempan. Demam tersebut berlangsung selama berhari-hari, kadang berminggu-minggu, dan diiringi dengan igauan.
Ketika suhu tubuh anak akhirnya turun dan kondisi mereka pulih, rambut di kepala mereka berubah. Helaian rambut yang tadinya lurus terpisah, kini menyatu, memilin, dan menggumpal menjadi gimbal. Masyarakat Dieng percaya bahwa demam tersebut adalah fase “transisi” atau kedatangan roh leluhur yang menandai anak tersebut sebagai “Anak Gembel”. Tidak ada sampo atau perawatan salon yang mampu mengurai gumpalan ini. Jika dipotong paksa tanpa ritual, rambut tersebut akan tumbuh kembali menjadi gimbal, dan sang anak sering kali akan jatuh sakit kembali.
Siapa Kyai Kolodete? Menelusuri Akar Sejarah Dieng
Untuk memahami fenomena ini, kita harus memutar waktu ke masa lalu, menelusuri sejarah Dieng yang merupakan perpaduan antara fakta sejarah Mataram Kuno dan cerita tutur (folklore) yang diwariskan turun-temurun.
Masyarakat Dataran Tinggi Dieng meyakini bahwa keberadaan mereka tidak lepas dari peran tiga tokoh pendiri utama, yaitu Kyai Karim, Kyai Walik, dan Kyai Kolodete. Ketiga tokoh ini dipercaya sebagai utusan dari Kerajaan Mataram Islam yang ditugaskan untuk membuka lahan dan menyebarkan agama di wilayah pegunungan yang dulunya merupakan hutan belantara angker.
Kyai Karim dipercaya menguasai wilayah sekitar Danau Menjer dan sekitarnya. Kyai Walik, yang namanya diabadikan menjadi nama jalan utama di Wonosobo, bertanggung jawab atas wilayah kota dan sekitarnya. Sementara itu, Kyai Kolodete memilih wilayah yang paling tinggi dan dingin, yaitu kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Sumpah Sang Leluhur
Legenda menyebutkan bahwa Kyai Kolodete adalah sosok yang sakti mandraguna namun memiliki penampilan yang nyentrik, salah satunya adalah rambutnya yang gimbal tak terurus. Sebelum wafat dan “moksa” (menghilang secara spiritual), Kyai Kolodete bersumpah atau mengeluarkan sabdo yang menjadi landasan mitos ini.
Beliau menyatakan bahwa beliau tidak akan pernah memotong rambut gimbalnya dan akan “menitipkan” ciri fisiknya tersebut kepada anak cucu pilihannya di Dieng. Keberadaan anak-anak berambut gimbal ini dijanjikan sebagai pertanda kemakmuran bagi masyarakat Dieng. Semakin banyak anak berambut gimbal yang muncul, diyakini hasil bumi seperti kentang, kubis, dan carica akan semakin melimpah ruah.
Oleh karena itu, kehadiran anak rambut gimbal tidak pernah dianggap sebagai aib atau penyakit. Sebaliknya, orang tua merasa bangga sekaligus was-was. Bangga karena anak mereka adalah pilihan leluhur, namun was-was karena merawat “anak titipan” memerlukan kesabaran ekstra dan biaya ritual yang tidak sedikit di kemudian hari.
Syarat Unik Pemotongan Rambut (Permintaan Aneh-aneh)
Inilah aspek yang paling menarik perhatian antropolog dan wisatawan dari seluruh dunia. Rambut gimbal ini tidak boleh dipotong sembarangan. Pemotongan hanya boleh dilakukan melalui prosesi ritual “Ruwatan” dan—ini yang terpenting—harus atas kemauan si anak sendiri.
Orang tua tidak boleh memaksa anak untuk memotong rambutnya. Jika dipaksa, anak akan sakit, atau rambut gimbal akan tumbuh lagi. Ketika si anak sudah siap dan meminta rambutnya dipotong (biasanya di usia 6-9 tahun), mereka akan mengajukan sebuah syarat atau “bebana”.
Permintaan atau bebana ini adalah mutlak. Orang tua harus memenuhinya. Yang ajaib adalah permintaan ini sering kali tidak masuk akal, sangat spesifik, atau jauh melampaui nalar anak-anak seusianya. Permintaan ini dipercaya bukan berasal dari nafsu si anak, melainkan bisikan dari “penjaga” yang ada di dalam dirinya.
Ragam Permintaan yang Menghebohkan
Ada kalanya permintaan itu sangat sederhana dan mengharukan. Seorang anak pernah hanya meminta sebutir telur dadar. Ada yang hanya meminta es krim, atau sekadar jajan pasar senilai lima ratus rupiah. Namun, tak jarang permintaan tersebut membuat orang tua harus memutar otak dan merogoh kocek dalam-dalam.
Berikut adalah beberapa contoh permintaan unik yang pernah tercatat dalam sejarah ritual di Dieng:
Kambing Kendit: Seekor kambing khusus yang memiliki lingkaran warna putih melingkar di perutnya yang hitam. Mencari kambing jenis ini sangat sulit dan harganya bisa berkali-kali lipat dari kambing biasa.
Sepeda Motor Baru: Seorang anak balita yang belum bisa mengendarai motor pernah meminta dibelikan sepeda motor matic keluaran terbaru.
Perhiasan Emas: Kalung atau gelang dengan berat gram tertentu.
Tempe Mendoan Raksasa: Ada anak yang meminta dibuatkan tempe mendoan sebesar pintu rumah.
Kesenian Lengger: Meminta ditanggapkan (dipertunjukkan) kesenian tari topeng Lengger semalam suntuk di halaman rumahnya.
Ketidakpastian permintaan ini menjadikan fase menunggu pemotongan rambut sebagai masa-masa yang mendebarkan bagi orang tua. Namun, demi kesembuhan dan kenormalan sang buah hati, apapun permintaan tersebut akan diusahakan sekuat tenaga. Bagi masyarakat Dieng, memenuhi permintaan ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur.
Tahapan Ritual Ruwatan: Membersihkan Sukerta
Kata “Ruwatan” berasal dari Bahasa Jawa “Ruwat” yang berarti melepaskan, membebaskan, atau membuang kesialan (sukerta). Pemotongan rambut gimbal bukan sekadar memangkas rambut, melainkan membuang sengkala atau energi negatif agar si anak bisa tumbuh sehat, cerdas, dan normal seperti anak-anak lainnya.
Secara tradisional, ritual ini bisa dilakukan secara pribadi di rumah masing-masing. Namun, prosesinya tetap harus melibatkan sesepuh desa atau pemangku adat. Berikut adalah urutan prosesi sakral tersebut:
Napak Tilas & Doa: Sebelum hari pemotongan, orang tua biasanya akan melakukan ziarah ke makam leluhur atau tempat-tempat keramat di Dieng seperti Kawah Sikidang, Kompleks Candi Arjuna, dan Sendang Sedayu.
Jamasan (Penyucian): Rambut anak akan dicuci menggunakan air dari tujuh sumber mata air (tuk pitu) yang disucikan. Air ini sering dicampur dengan kembang setaman (bunga tujuh rupa) dan tanah dari tempat keramat. Tujuannya adalah menyucikan raga anak sebelum ritual inti.
Arak-arakan (Kirab): Anak-anak rambut gimbal akan diarak keliling desa. Mereka diperlakukan bak raja dan ratu sehari, mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, didampingi oleh pengawal yang membawa sesaji dan benda permintaan mereka.
Pemotongan Rambut: Puncak acara dilakukan oleh sesepuh adat. Dengan gunting khusus dan iringan mantra Jawa, rambut gimbal dipotong sedikit demi sedikit. Uniknya, rambut tersebut tidak dibuang ke tanah sembarangan.
Pelarungan: Potongan rambut gimbal tersebut kemudian dibungkus kain putih, dimasukkan ke dalam guci atau wadah tanah liat, lalu dilarung (dihanyutkan) ke sungai yang bermuara ke Laut Selatan (Samudra Hindia). Ini menyimbolkan pengembalian “titipan” kepada Nyi Roro Kidul yang juga dipercaya memiliki koneksi spiritual dengan Mataram dan Dieng.
Menyaksikan Prosesi Ruwatan di DCF (Dieng Culture Festival)
Dahulu, ritual ini dilakukan secara terpisah-pisah. Namun, sejak satu dekade terakhir, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa menginisiasi sebuah acara akbar yang menggabungkan tradisi ini dengan pariwisata modern. Acara tersebut adalah Dieng Culture Festival (DCF).
DCF telah menjadi magnet pariwisata terbesar di Jawa Tengah. Ribuan wisatawan, fotografer, dan peneliti budaya membanjiri Dataran Tinggi Dieng di bulan Agustus atau September (biasanya saat musim kemarau dan suhu mencapai titik beku) untuk menyaksikan prosesi Ruwatan Massal.
Mengapa Harus Melihat Langsung di DCF?
Menyaksikan Ruwatan Massal di DCF memberikan pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan ritual pribadi. Aura mistis berpadu dengan kemegahan artistik. Bayangkan ribuan lampion diterbangkan ke langit malam diiringi musik Jazz Atas Awan, kemudian di pagi harinya, di bawah sorotan matahari pagi yang menembus kabut, belasan anak rambut gimbal berbaris rapi di pelataran Candi Arjuna.
Di sini, wisatawan dapat melihat langsung momen emosional ketika para tetua adat memotong rambut anak-anak tersebut. Tangis haru orang tua sering kali pecah. Momen ketika permintaan-permintaan unik diserahkan juga menjadi tontonan yang menarik. Ada anak yang langsung memeluk kambingnya, ada yang sibuk memakan es krimnya saat rambutnya dipotong. Kontras antara kepolosan anak-anak dan kesakralan ritual menciptakan atmosfer yang tidak akan Anda temukan di belahan bumi mana pun.
Acara ini telah berhasil mengangkat status “Anak Gembel” yang dulunya mungkin hanya dikenal secara lokal, menjadi ikon budaya nasional. Melalui DCF, ekonomi masyarakat terangkat, dan warisan budaya leluhur tetap lestari di tengah gempuran modernisasi.
Bagi Anda yang berencana mengunjungi festival ini, persiapan logistik sangatlah krusial mengingat akomodasi di Dieng sangat terbatas saat acara berlangsung. Menggunakan layanan operator perjalanan profesional sering kali menjadi pilihan bijak. Anda bisa mempertimbangkan untuk mengambil paket trip dieng dari jogja yang biasanya sudah mencakup akses ke area festival, penginapan, dan transportasi, sehingga Anda bisa fokus menikmati prosesi budaya tanpa pusing memikirkan parkir atau tiket.
Perspektif Medis vs. Kepercayaan Lokal
Sebagai tulisan yang mengedepankan objektivitas, menarik untuk melihat fenomena ini dari kacamata medis. Apakah sains bisa menjelaskan rambut gimbal ini?
Beberapa peneliti mencoba mengaitkan kondisi ini dengan faktor gizi, genetika, atau kurangnya kebersihan rambut. Namun, teori-teori tersebut sering kali terpatahkan. Banyak anak rambut gimbal berasal dari keluarga berkecukupan dengan asupan gizi sangat baik. Mereka juga rutin mencuci rambut, namun rambut tetap menggumpal.
Selain itu, fakta bahwa rambut tersebut tumbuh normal kembali setelah ritual ruwatan (dan pemenuhan syarat) menjadi anomali yang sulit dijawab oleh ilmu kedokteran kulit modern. Hingga tahun 2026 ini, belum ada konsensus medis pasti mengenai penyebab spesifik fenomena rambut gimbal di Dieng.
Ketiadaan penjelasan ilmiah yang memuaskan justru semakin memperkuat posisi kearifan lokal. Masyarakat Dieng memilih berdamai dengan misteri ini. Mereka tidak berusaha “menyembuhkan” anak-anak tersebut secara medis, melainkan merawatnya secara budaya. Ini adalah bukti betapa kuatnya akulturasi antara manusia, alam, dan alam gaib di tanah Jawa.
Nilai Filosofis di Balik Rambut Gimbal
Lebih dari sekadar atraksi wisata, fenomena anak rambut gimbal mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang mendalam bagi siapa saja yang mau merenung.
Pertama, nilai kasih sayang tanpa syarat. Orang tua di Dieng diajarkan untuk mencintai anak mereka apa adanya, meskipun fisik mereka berbeda dari anak lain. Mereka belajar kesabaran dalam merawat rambut yang sulit diatur dan memenuhi permintaan yang tak terduga.
Kedua, nilai kepatuhan pada janji. Legenda Kyai Kolodete adalah tentang memegang teguh sumpah. Masyarakat Dieng menjaga amanah leluhur dengan merawat anak-anak ini sebaik mungkin.
Ketiga, keseimbangan dengan alam. Ritual pelarungan rambut ke sungai mengajarkan bahwa manusia adalah bagian dari siklus alam. Segala hal buruk harus dihanyutkan agar kehidupan baru yang bersih bisa dimulai kembali.
Baca Juga:
Tips Wisatawan Saat Menyaksikan Ruwatan
Jika Anda berencana menyaksikan keunikan budaya ini, baik saat Dieng Culture Festival maupun ritual pribadi, ada beberapa etika yang wajib diperhatikan:
Hormati Privasi: Meskipun anak-anak ini menjadi pusat perhatian, jangan memotret mereka terlalu dekat secara agresif, terutama jika mereka tampak tidak nyaman atau menangis. Mintalah izin kepada orang tua atau pendamping.
Jaga Ketenangan: Saat mantra dibacakan dan prosesi pemotongan berlangsung, jagalah keheningan. Ini adalah momen sakral bagi keluarga.
Pakaian Sopan: Karena lokasi ritual sering kali berada di area Candi Arjuna yang suci, kenakanlah pakaian yang sopan dan tertutup.
Jangan Menyentuh Sembarangan: Jangan menyentuh kepala atau rambut anak gimbal tanpa izin, karena area kepala dianggap sangat sakral dalam budaya ini.
Kesimpulan: Warisan yang Hidup di Atas Awan
Dieng bukan sekadar destinasi liburan untuk mendinginkan badan. Ia adalah perpustakaan budaya yang hidup. Kisah anak rambut gimbal adalah bukti bahwa di era digital dan kecerdasan buatan tahun 2026 ini, misteri dan kearifan lokal masih memiliki tempat yang istimewa.
Legenda Kyai Kolodete bukan hanya dongeng pengantar tidur, melainkan napas yang menghidupi identitas masyarakat Wonosobo dan Banjarnegara. Melalui ritual ruwatan, mereka menunjukkan kepada dunia bagaimana cara menghormati masa lalu, merawat masa kini, dan menyongsong masa depan dengan penuh harapan.
Mengunjungi Dieng tanpa memahami kisah ini ibarat memakan sayur tanpa garam; terasa hambar. Maka, ketika Anda kelak menjejakkan kaki di tanah para dewa ini, tataplah anak-anak berambut gimbal itu dengan pandangan baru. Bukan sebagai anomali, melainkan sebagai penjaga tradisi yang dipilih langsung oleh semesta.
Apakah Anda siap menjadi saksi mata keajaiban budaya ini? Rencanakan perjalanan Anda sekarang, pelajari sejarahnya, dan biarkan Dieng menyihir Anda dengan pesona mistisnya yang tak lekang oleh waktu.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Q: Apakah rambut gimbal di Dieng bisa menular?
A: Tidak. Masyarakat percaya ini adalah titipan leluhur yang bersifat spiritual dan selektif, bukan penyakit menular.
Q: Apa yang terjadi jika rambut gimbal dipotong tanpa ritual?
A: Menurut kepercayaan dan banyak kesaksian warga lokal, anak tersebut akan jatuh sakit (demam tinggi) dan rambut yang tumbuh akan kembali gimbal.
Q: Apakah wisatawan umum boleh melihat ritual pemotongan rambut?
A: Sangat boleh, terutama saat acara Dieng Culture Festival yang memang dibuka untuk umum. Untuk ritual pribadi, biasanya diperbolehkan asalkan bersikap sopan dan meminta izin tuan rumah.
Q: Berapa biaya untuk mengikuti paket wisata ke Dieng Culture Festival?
A: Biaya bervariasi tergantung fasilitas. Namun, mengingat tingginya permintaan, disarankan memesan jauh-jauh hari melalui operator terpercaya.
Q: Apakah anak rambut gimbal hanya ada di Dieng?
A: Fenomena serupa sebenarnya juga ditemukan di beberapa budaya lain di dunia, namun konteks sejarah Kyai Kolodete dan ritual Ruwatan yang spesifik hanya ada di Dataran Tinggi Dieng, Indonesia.
Siap Menyambut Petualangan yang Tak Terlupakan?
Bayangkan jika Anda bisa menyerahkan semua urusan perjalanan kepada kami. Tanpa harus khawatir tentang rute terbaik, harga tiket masuk, tempat parkir, atau kondisi jalan yang berkelok dan menanjak. Tugas Anda hanya duduk santai, menikmati pemandangan, dan menciptakan kenangan yang tak akan terlupakan. Paket Wisata Dieng dari Jogja yang kami tawarkan memberikan Anda kesempatan untuk menikmati liburan yang nyaman, lancar, dan penuh makna. Ini adalah pilihan yang tepat untuk menambahkan pengalaman baru dalam daftar perjalanan Anda ke Jogja di tahun 2026.
Jangan tunda lagi! Segera amankan jadwal liburan Anda dan biarkan Visit-Jogja.com membantu Anda merancang perjalanan impian ke Dieng Plateau. Hubungi kami sekarang melalui WhatsApp untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan melakukan pemesanan.
Pesan Sekarang!
- Website: visit-jogja.com
- WhatsApp: 08985082460
Cari Paket Wisata Yang Anda Inginkan!
Pos-pos Terbaru
- Rental Mobil Jogja ke Borobudur 2026: Cek Harga & Rute Tercepat
- Harga Tiket Borobudur 2026 & Cara Dapat Kuota Naik Candi (Panduan Lengkap)
- Wisata Pantai Jogja 2026: Jelajah Jalur JJLS & Beach Club Baru Paling Hits!
- Kuliner Khas Dieng: 5 Tempat Makan Mie Ongklok Legendaris & Terenak di Wonosobo (2026)
- Misteri Anak Rambut Gimbal Dieng: Legenda Kyai Kolodete & Ruwatan 2026
Komentar Terbaru
- Rental Mobil Jogja ke Borobudur: Harga Murah & Driver Ramah pada Harga Tiket Borobudur 2026 & Cara Dapat Kuota Naik Candi (Panduan Lengkap)
- Petualangan Tak Terlupakan: Eksplorasi Desa Magelang dengan VW Safari Visit-Jogja – My Blog pada VW Safari Borobudur : Paket Tour VW Safari Borobudur
- Menyusuri Pesona Borobudur dengan VW Safari: Liburan Seru Bareng Visit-Jogja – Kompas Wirausaha pada VW Safari Borobudur : Paket Tour VW Safari Borobudur
- Paket Sewa Rental Mobil Jogja 24 Jam dengan Driver pada Hidden Gem: 7 Pasar Ramadhan Jogja yang Harus Dikunjungi
- Sasa Tasia pada Kopi Klotok Jogja: Menjelajah Citarasa Unik dari Jantung Kota Yogyakarta
Kantor Kami
PT VISIT TOUR INDONESIA
Kadisoka – Kec. Purwomartani
Sleman – Yogyakarta, Indonesia
E-mail : visitjogja.go@gmail.com
Live Chat
Online Senin-Minggu (06:00 – 22:00) WIB
Tour & Paket Wisata Jogja
Transport & Rental Mobil Jogja
Hubungi Kami
klik untuk chat via WA
klik untuk email
Visit-Jogja.com - siap menemani liburan anda
Copyright © 2015 - 2025 Visit-jogja.comKontak Kami
Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.
Hotline
082138561120 / 08985082460Whatsapp
08985082460Email
visitjogja.go@gmail.com

Belum ada komentar